Discourse
KolaseKegiatanTentang Kami
  • Beranda
  • Refleksi
  • Kajian Tokoh
  • Pranala
  • Ulasan
  • Terjemahan
  • Warta
  • Kolase
  • Kegiatan
  • Tentang Kami
DISCOURSE
ArtikelKontakKontribusi EsaiTokoDonasiVideoSyarat dan KetentuanKebijakan Privasi
© 2017-2025 LSF Discourse
Pranala

Epistemologi Vedanta

0

Sumber pengetahuan yang terakhir ialah Wahyu, yang dipahami hanya oleh beberapa orang tanpa pengaruh awal dari indera dan rasionalitas.

Bhaktisvarupa damodara swami
Bhaktisvarupa damodara swami
Dika Sri Pandanari
Dika Sri Pandanari
Pendiri LSF Discourse. Pengajar di Universitas Bina Nusantara Malang.

Diterbitkan pada Kamis, 10 Mei 2018
Topik
Epistemologi
Semua topik
Bagikan artikel ini

Bantu kami untuk terus bertahan

Donasi

Permata kebenaran diciptakan, dipelihara dan dilebur oleh Brahman dalam pengetahuan. Demikian gambaran Filsafat Hindu yang menjadi pendamai antara sains dan teologi melalui sistem filsafatnya yang disebut Vedanta. Vedanta merupakan rangkaian kalimat singkat sekaligus intisari dari Vedantasutra seperti Bagavadgita dan Upanishad. Di dalamnya terkandung segala ilmu kosmos dan ajaran moral yang mengacu pada relasi roh dan badan. Bhaktisvarupa Damodara Swami merujuk Srila Jiva Goswami, filosof Hindu abad ke-16 yang menjelaskan bahwa Vedanta memiliki tiga jenis sumber pengetahuan atau epistemologi yang mendasarinya yaitu: Pratyaksa, Anumana dan Sabda.

Yang pertama adalah Pratyaksa atau sumber pengetahuan berdasarkan persepsi indera. Tiap indera, baik mata, telinga, hidung, kulit dan lidah yang berfungsi dengan baik merupakan simpul penerimaan informasi. Pratyaksa merupakan epistemologi paling dasar karena masih terkait dengan dunia materi, namun dengan disiplin spiritual, manusia dapat memperoleh pengertian nilai-nilai Veda melalui inderanya. Yang kedua, Anumana atau logika penyimpulan, ialah proses nalar manusia dalam merumuskan beberapa pengetahuan (term) menjadi satu pengertian (kesimpulan). Anumana membantu merangkai hasil dari Pratyaksa dan menghindari ketidakpastian pengandaian terutama ketika berhadapan dengan sains teoretis.

Yang terakhir adalah Sabda atau pengetahuan yang diwahyukan. Otoritas tertinggi atau Tuhan menurunkan pengetahuan pada pribadi yang telah memurnikan Pratyaksa dan meluruskan Anumana-nya. Menurut Vedanta pengetahuan ini tidak dapat dipertanyakan lagi, namun dapat diulas oleh para sarjana spiritual yang sebelumnya telah melakukan pembelajaran dan pengolahan jiwa seturut disiplin Veda. Filosof Inggris John Locke menyepakati tiga penggolongan ini, dimana ia berpendapat bahwa awalnya manusia menerima pengetahuan melalui indera, selanjutnya rasionalitas bekerja. Dikemudian hari, pada usia senja Locke menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang terakhir ialah Wahyu, yang dipahami hanya oleh beberapa orang tanpa pengaruh awal dari indera dan rasionalitas.

Bagikan artikel ini
Diterbitkan pada Kamis, 10 Mei 2018
Topik
Epistemologi
Semua topik

Diskusi

Loading...
Bantu kami melaluidonasi di SociaBuzz
Artikel Terkait
Kajian Tokoh
Membaca Thomas Aquinas
Trio Kurniawan0

Konsep Thomas Aquinas berbicara mengenai proses pengetahuan manusia (dalam Summa Theologiae – ST).

Ulasan
Rekonstruksi Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Trio Kurniawan0

Mohamad Anas menawarkan lagi sebuah cara para filsuf dalam menikmati dunia: berdialog dan mengkritisi dalam bingkai rasionalitas

Pranala
Bandersnatch
Dika Sri Pandanari0

Sistem ini berkuasa menentukan laku (task) Stefan atau siapun Bandersnatch, makhluk malang di era post-truth yang mengira dirinya kuat dan bebas tanpa menyadari bahwa kuasa hadir sebelum ia memiliki bayangan.

Foto Tebing Batu karya North Sky Photography
Terjemahan
Epistemologi Serius dalam Justified True Belief (Bagian 1)
Krisna Putra Pratama0

Karya filosofis Gettier menyembul sebagai sebuah ledakan literatur filosofis yang menciptakan kesepakatan penjelasan mengenai pengetahuan

Pranala Paranoia dan Pengetahuan
Pranala
Paranoia atas Pengetahuan
Dika Sri Pandanari0

Walau banyak kepastian dan bukti yang telah kutemukan dalam rasioku, aku tidak dapat yakin bahwa seluruh dunia dapat menerima dan memahaminya.

Christina's World karya Andrew Wyeth
Refleksi
Sanggahan atas Solipsisme: Bukti atas Eksistensi Dunia Eksternal
Muhammad Ibadurrahman0

Dari mana kita tahu pencerapan kita benar adanya, bahwa terdapat sesuatu yang eksternal dari kesadaran kita?